Translate

3 Desember 2022

TUGAS 3 Pendidikan Kewarganegaraan MKDU4111

 

TUGAS 3

Indonesia merupakan negara yang besar baik dari segi wilayahnya maupun dari segi penduduknya. Indonesia merupakan negara kepualaian dengan jumlah lebih dari 17.000 yang sudah cukup dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Oleh karena itu, Indonesia mempunyai gagasan tentang otonomi daerah. Bersamaan dengan bergulirnya era reformasi di Tahun 1998 yang memunculkan tuntutan dari masyarakat tentang perlunya managemen pemerintahan yang baru. Hal tersebut disebabkan bahwa pemerintahan yang sentralistik pada kenyataannya masih banyak kekurangan. Tuntutan tersebut kemudian ditindak lanjuti dengan disahkannya UU No. 22 tahun 1999 Tentang Pemerintah daerah.

Soal 1 (skor 25)

Dari uraian di atas lakukanlah analisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan otonomi daerah di Indonesia!

(Petunjuk: silahkan baca dan pahami terlebih dahulu tentang otonomi daerah yang ada dalam BMP MKDU4111)

Soal 2 (skor 25)

Dari uraian di atas lakukanlah analisis faktor apa saja hambatan dalam melaksanakan otonomi daerah di Indonesia!

(Petunjuk: silahkan baca dan pahami terlebih dahulu tentang pelaksanaan otonomi yang ada di BMP MKDU4111)

 

 

 

Soal 3 (skor 25)

Pada kurun waktu lebih dari satu dasawarsa berjalannya otonomi daerah sejak disahkan UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah sudah banyak yang dicapai, namun amsih banyak hal yang belum bisa ditangani terkait dengan upaya dalam mengatasi implementasi kebijakan otonomi daerah. Contoh keberhasilan dari otonomi daerah dalah semakin luasnya kewenangan dari DPRD selaku Lembaga legeslatif serta kewenangan kepala daerah selaku eksekutif dan semakin terbukanya informasi serta partisipasi dari masyarakan dalam hal pengambilan keputusan dan penagwasan terhadap jalannya pemerintahan di tingkat daerah. Namun, keberhasilan tersebut juga diiringi dengan hambatan seperti munculnya istilah raja-raja kecil di daerah dan banyak kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah sehingga menyebabkan anggaran yang seharusnya untuk membangun daerahnya dikorupsi dan pembangunan menjadi terhambat.

Dari uraian di atas lakukanlah telaah terkait dengan solusi nyata kita sebagai masyarakat untuk menanggulangi hambatan pelaksanaan otonomi daerah!

(Petunjuk: silahkan baca dan pahami terlebih dahulu tentang hambatan otonomi daerah yang ada di dalam BMP MKDU4111)

Soal 4 (skor 25)

Pada praktek good governance menyaratkan harus terdapat transparasi dalam proses penyelenggaraan pemerintah secara keseluruhan. Transparasi merupakan konsep yang penting yang mengringi kuatnyakeinginan untuk praktek good governance. Masyarakat diberikan kesempatan yang luas untuk mengetahui informasi mengenai penyelenggaraan pemerintahan, sehingga masyarakat dapat memberikan penilaian keberpihakan pemerintah terhadap kepentingan public. Oleh karena itu, masyarakat dapat dengan mudah menetukan apakah akan memerikan dukungan kepada pemerintah atau malah sebaliknya.

Dari uaraian di atas lakukanlah telaah terkait peran mahasiswa dalam upaya mewujudkan praktek good governance!

 

 

 

Jawaban

1. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan otonomi daerah di Indonesia:

Ø  Faktor Sumber Daya Manusia

Manusia sebagai pelaku pemerintahan daerah harus mampu menjalankan tugasnya dalam mengurus rumah tangga daerah demi tercapainya tujuan.

Ø  Kemampuan Struktural Organisasi

Struktur organisasi pemerintah daerah harus mampu menampung segala aktivitas dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Ø  Kemampuan Mendorong Partisipasi Masyarakat

Pemerintah daerah harus mampu mendorong peran serta masyarakat dalam pembangunan.

Ø  Kemampuan Keuangan Daerah

Keuangan daerah harus mampumendukung pembiayaan kegiatan pererintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan.

Ø  Faktor Anggaran

Sebagai alat utama dalam pengendalian keuangan daerah, sehingga dibutuhkan rencana anggaran yang tepat guna.

Ø  Faktor Peralatan

Setiap alat yang digunakan harus mampu memperlancar kegiatan pemerintah daerah.

Ø  Manajemen yang Bail

Susunan organisasi beserta pejabat, tugas,dan wewenang harus memiliki hubungan yang baik dalam rangka mencapai tujuan.

Referensi : MKDU4111 Modul 9 hal 9.4 - 9.7

2. Faktor-faktor yang dapat menghambat jalannya otonomi daerah di Indonesia adalah:

Ø  Komitmen Politik: Penyelenggaraan otonomi daerah yang dilakukan oleh pemerintah pusat selama ini cenderung tidak dianggap sebagai amanat konstitusi.

Ø  Mash Terpaku pada Sentralisai: Daerah mash memiliki ketergantungan tinggi terhadap pusat, sehingga mematikan kreativitas masyarakat dan perangkat pemerintahan di daerah,

Ø  Kesenjangan Antardaerah: Kesenjangan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia, serta intra struktur ekonomi.

Ø  Ketimpangan Sumber Daya Alam: Daerah yang tidak meriliki kekayaan sumber daya alam tetapi populasi penduduknya tinggi akan terengah-engah dalam melaksanakan otonomi.

Ø  Benturan Kepentingan: Adanya perbedaan kepentingan yang sangat melekat pada berbagai pihak yang menghambat proses otonomi daerah, seperti benturan keinginan pimpinan daerah dengan kepentingan partai politik.

Ø  Keinginan Politik atau Political Will: Keinginan politik yang tidak seragam dari pemerintah daerah untuk menata kembali hubungan kekuasaan pusat dan daerah.

Ø  Perubahan perilaku elit lokal: elit lokal mengalami perubahan perilaku dalam penyelenggaraan pemerintah daerah karena pengaruh kekuasaan yang dimilikinya.

Referensi : MKDU4111 Modul 9 hal 9.8 - 9.10

3. Ada 4 solusi nyata kita sebagai masyarakat untuk menanggulangi hambatan pelaksanaan otonomi daerah:

A.      Rekonstruksi konsep. Harus ada reformulasi konsep mendudukkan eksistensi desentralisasi sebagai salah satu instrumen (bukan tujuan akhir) untuk mendekatkan negara dengan masyarakat. Ini agar keduanya bisa berinteraksi secara dinamis, baik dalam pengambilan kebijakan maupun dalam implementasi kebijakan.

B.       Rekonstruksi pendekatan kebijakan. Desentralisasi harus terkait dan sejalan dengan bidang lain (holistik). Implementasi kebijakan desentralisasi harus memperhatikan karakteristik, potensi, dan kekhususan setiap daerah.

C.       Pengelolaan bias antarelite. Dalam pemekaran daerah, misalnya, ada penggabungan dan penghapusan daerah (tidak hanya pemekaran), dengan menerapkan status bertahap. Sebagai daerah administratif, baru kemudian daerah otonom, bagi daerah pemekaran baru. Anggaran bisa dihemat dan syahwat politik elite lokal pun bisa dikurangi dalam 'memprovokasi' pemekaran.

D.      Reformasi kebijakan untuk penguatan institusi negara, kapasitas negara, dan kapasitas masyarakat.

Referensi : MKDU4111 Modul 9 hal 9.17 - 9.22

 

 

4. Peran mahasiswa dalam upaya mewujudkan praktek good governance:

Mahasiswa memiliki 2 peran  penting yang harus dilakukan mahasiswa terhadap masyarakat diantaranya :

A.      Agent Of Change

Dengan adanya mahasiswa sebagai kaum intelektual, maka mahasiswa dituntut untuk melakukan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Mahasiswa tidak hanya “diam” melihat kondisi di sekitarnya. Mahasiswa harus merubah kondisi sekitarnya menjadi lebih baik. Mahasiswa juga bisa berperan sebagai control terhadap kebijakan yang dibuat menyangkut hajat hidup orang banyak, mahasiswa dapat menjadi peran penting dalam mewujudkan good governance dalam system pemerintahan.

B.       Iron Stock

Mahasiswa adalah asset atau cadangan untuk masa depan. Mahasiswa diharapkan menjadi generasi yang tangguh dan juga harus memiliki kemampuan dan moralitas yang baik sehingga dapat menggantkan generasi sebelumnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya organisasi yang setiap akhir kepengurusan akan di tandai dengan pergiliran tongkat estafet dari golongan tua yang sudah penah memimpin ke golongan muda yang mempunyai jiwa kempemimpinan. Dan disinilah saatnya yang muda yang memimpin.

Sebagai mahasiswa juga harus mengerti fungsi mahasiswa yang harus dijalankan. Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang di ungkapkan oleh M. Hatta membentuk manusia susila dan demokrat yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat. Berdasarkan pemikiran M.Hatta tersebut, dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis, yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu : memiliki sense of crisis, dan selalu mengembangkan dirinya. Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu, yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.

Referensi : MKDU4111 Modul 9 hal 9.23 - 9.27

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS 3 PENGANTAR PENDIDIKAN MKDK4001

  TUGAS 3   Program Studi               : IP/Teknologi Pendidikan Kode Mata Kuliah                            : MKDK4001 Nama ...